Author: Redaksi

Penulis: Arman Ramadhan, Mahasiswa IISIP Jakarta Dalam dunia pergerakan mahasiswa, Soe Hok Gie merupakan nama yang sangat populer. Sosoknya begitu digandrungi dan dijadikan idola oleh mahasiswa-mahasiswa dan para aktivis kampus. Gie merupakan gambaran atau representasi anak muda yang idealis, berani, jujur, dan marah saat melihat ketidakdilan. Semasa hidupnya, Gie melawan tentang kondisi yang dianggapnya tidak tepat melalui tulisan-tulisannya. Banyak tulisan-tulisannya yang dimuat di berbagai surat kabar nasional. Sebagian besar tulisannya menyangkut persoalan politik negerinya. Keterampilan menulis Gie tampaknya diwariskan dari sang ayah, Soe Lie Piet. Pada masanya, Soe Lie Piet merupakan penulis Tionghoa yang produktif. Bukti dari produktivitasnya itu dapat…

Read More

Penulis: Vivi Felayati Masalah kekeresan terhadap perempuan terus meningkat dari tahun ke tahun. Namun, yang mengkhawatirkan adalah peningkatan yang terjadi dengan pelakunya berada atau merupakan bagian terdekat di lingkungan korban, termasuk ayah kandung, saudara kandung, dan bahkan kekasih korban. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) mencatat, sebanyak 25.050 perempuan menjadi korban kekerasan di Indonesia sepanjang tahun 2022. Jumlah tersebut semakin meningkat 15,2% dari tahun sebelumnya sebanyak 21.753 kasus. Komnas perempuan pada Januari- November 2022 telah menerima 3.014 kasus kekerasan berbasis gender terhadap perempuan. Kekerasan Berbasis Gender (KBG) merupakan perilaku atau tindakan membahayakan yang dilakukan terhadap seseorang berdasar pada aspek…

Read More

Penulis: Raihan Muhammad, mahasiswa Ilmu Hukum Universitas Negeri Semarang Pelacuran intelektual merupakan salah satu kejahatan dalam dunia akademik yang mengerdilkan moral dan daya nalar intelektualitas. Hal tersebut juga bentuk penghambaan terhadap nafsu dan kepentingan-kepentingan individu yang menjerumuskan diri ke dalam kesenangan serta kepentingan pribadi maupun segelintir orang. Acapkali kampus—tempat yang mulia dan terhormat—dijadikan sebagai tempat pelacuran intelektual oleh para pelacur intelektual. Istilah pelacuran intelektual digunakan oleh seorang aktivis mahasiswa Universitas Indonesia, Soe Hok Gie, pada tulisannya yang dimuat di surat kabar Sinar Harapan pada 21 April 1969. Istilah ini merupakan reaksi Gie terhadap tulisan Prof. Emil Salim, Sadli, Suny, serta…

Read More

Penulis: Faisal M (anggota Serikat Merdeka Sejahtera) Teman-teman pekerja pasti sudah tidak asing atau bahkan mungkin pernah mendengar langsung di area kerjanya kalimat sakti “kita ini keluarga” yang diungkapkan oleh atasan atau bos. Banyak yang menyebut kalimat ini berbahaya, meski ada juga yang tetap merasa bahwa asas kekeluargaan dalam hubungan kerja itu penting. Tapi emang, kenapa sih kalimat itu problematik? Analogi atau ungkapan bahwa “kita ini keluarga” dalam sebuah perusahaan itu udah kayak red flag aslinya. Kalimat ini sering dipakai untuk menciptakan ilusi palsu bahwa perusahaan dan karyawan adalah keluarga, dengan menafikan relasi kuasa yang timpang di antara kedua belah…

Read More

Penulis: Faisal M (anggota Serikat Merdeka Sejahtera) Generasi Z sering disebut tidak mau berusaha dan tidak sungkan untuk pindah kerja. Banyak stereotip yang melabeli mereka sebagai generasi yang manja dan nekat sehingga tidak akan betah di satu perusahaan. Namun apakah stereotip itu sesuai dengan kenyataan? Apakah hanya itu faktor yang membuat Generasi tersebut suka pindah-pindah kerja? Generasi Z, yang juga sering disebut sebagai Gen Z, adalah generasi pekerja terbaru yang masuk ke dunia industri. Terlepas dari jiwa muda yang mereka bawa ke tempat kerja, mereka juga sering menjadi korban dari stereotip negatif. Bahkan tidak sedikit orang melabeli mereka sebagai “generasi…

Read More

Penulis: Ubedillah Badrun (Analis Sosial Politik Universitas Negeri Jakarta) Saya merenung untuk menulis artikel ini agar tulisan ini betul-betul tidak terjebak dalam kepentingan yang sangat politis. Tetap on the track bahwa pikiran ini saya tulis dengan maksud untuk kepentingan Republik dan masa depannya dan ditulis dalam kerangka sebagai akademisi. Bermula dari pertanyaan apakah benar bahwa Presiden Jokowi telah benar-benar melakukan perbuatan yang menurut UUD 1945 dapat menyebabkan ia dapat diberhentikan sebagai Presiden ? Bagaimana aturanya? Sesungguhnya, cara bernegara Republik ini telah diatur dengan baik sejak 18 Agustus 1945ketika Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) memutuskan disahkanya UUD1945 sebagai konstitusi Indonesia. Sejak…

Read More

Penulis: Miftachul ChoirRKUHP memang sudah disahkan dan menambah panjang daftar tuntutan-tuntutan aktivis pro-demokrasi yang justru diingkari oleh pemerintah. Namun, baiknya kita tidak terlalu menghakimi kekurangan-kekurangan yang dilakukan oleh para aktivis.Kampanye yang dilakukan oleh aktivis pro-demokrasi sudah lebih luar biasa jika disituasikan dengan kondisi sosial-politik Indonesia. Jangkauan media yang sudah luas — dari Instagram sampai Tiktok dan mencakup berbagai kelompok sosial masyarakat, penggunaan fitur-fitur yang unik sehingga membuat lebih partisipatif dan secara langsung menunjukan apa sebetulnya dampak-dampak yang ditimbulkan oleh kebijakan pemerintah terhadap masyarakat serta siapa yang sebetulnya diuntungkan.Memang sayangnya, aktivisme, baik yang professional maupun tidak, merupakan pekerjaan yang sungguh sulit.…

Read More

Penulis: Ubedillah Badrun (Analis Sosial Politik Universitas Negeri Jakarta) DALAM catatan sejarah peradaban dunia, pergumulan pemikiran tentang bagaimana seharusnya negara dikelola sesungguhnya sudah ada sejak era Yunani Kuno ketika filsuf Plato (427-347 SM) menulis dua buku dari 28 karya dialogisnya yang menggambarkan pergumulan pemikiran tentang negara harus dijalankan oleh siapa dan seperti apa? Dua buku dialogis Plato yang berjudul Politeia (republik) dan Nomoi (hukum) menggambarkan dinamika pergumulan ide itu. Secara singkat dapat dikemukakan bahwa dalam Politeia Plato menekankan pentingnya aktor yang baik dalam mengelola negara. Negara perlu dipimpin oleh para pemikir yang bijak (filosof), yang mengerti tentang publik, yang mau…

Read More

Penulis: Miftahul Choir Kiri ke kanan: Tawan, Bam. Sumber: Thai Lawyers for Human Rights Sejak 16 Januari 2023 lalu, dua aktivis muda Thailand, Tawan Tuatalunon (Tawan, 21) dan Orawan Phuphong (Bam, 24) ditahan oleh pengadilan Thailand setelah keduanya mencabut kembali jaminan atas pembebasan bersyarat mereka, yang berarti mereka harus ditahan oleh pengadilan Thailand. Keduanya menuntut pemerintah Thailand untuk mereformasi sistem yudisial, membebaskan tahanan politik, serta mencabut Pasal 112, pasal karet di Thailand yang memidanakan kritik terhadap kerajaan. Tidak hanya membatalkan jaminan pembebasan bersyarat, Bam dan Tawan juga memutuskan untuk melakukan aksi mogok makan dan minum terhitung 16 January 2023. Hingga…

Read More

Penulis: Miftahul Choir Sejak Bam dan Tawan memutuskan untuk mencabut jaminan pembebasan bersyarat, kembali ke penjara dan memulai mogok makan, serangkaian aksi demonstrasi berlangsung di berbagai kota di Thailand. Di Bangkok, dua titik yang kerap menjadi lokasi demonstrasi adalah di Bangkok Arts and Cultural Center (BACC) dan Ratchada Criminal Court. BACC, merupakan salah satu pusat kesenian yang dijadikan sebagai ruang untuk memamerkan film, seni lukis, musik, hingga teater. Letaknya di pusat kota Bangkok, BACC berdekatan dengan pusat perbelanjaan MBK Centre, Siam Paragon, Central World, Samyan Mirtown serta bertepatan dengan stasiun Bangkok Train System (BTS) National Stadium, Siam dan Ratchathewi membuat…

Read More